“HACKING THE URBAN WATER CRISIS” : RANCANG BANGUN INSTRUMEN IoT MULTI-SENSOR PINTAR UNTUK DETEKSI POLUSI REAL-TIME SECARA OTONOM DI KOLAM RETENSI USU - MEDAN
Disusun Oleh:
Maria Sihombing (NIM: 220801037)
Program Studi S1
Fisika, Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Sumatera
Utara
Dosen Pembimbing
(Editor) :
Dr. Muhammad Sontang
Sihotang, S.Si., M.Si.
Dosen Penguji 1:
Dr. Tulus Ikhsan
Nasution, S.Si., M.Sc. (Ketua Program Studi Fisika FMIPA USU)
Dosen Penguji
2:
Sri Utari Rahayu, S.Si, M.Sc., Ph.D.
Keterangan
Pelaksanaan:
Agenda: Seminar Hasil
Penelitian Skripsi
Hari / Tanggal:
Kamis, 4 Juni 2026
Venue : Ruang Seminar
Program Studi Fisika, Fakultas MIPA, Universitas Sumatera Utara
(USU)-Medan.
Judul awal tulisan ini ; “ SISTEM MONITORING KUALITAS AIR PADA KOLAM RETENSI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA DENGAN MULTI SENSOR SECARA REAL-TIME BERBASIS IoT” dan yang disajikan di media ini telah di edit
oleh Pembimbing sebagai Editor.
ABSTRAK
Hacking
the Urban Water Crisis: Krisis air perkotaan akibat
limpasan drainase makro menuntut hadirnya sistem monitoring yang cepat, otonom,
dan presisi. Penelitian ini berhasil merancang bangun rangkaian instrumentasi
elektronik kualitas air pada Kolam Retensi Universitas Sumatera Utara (USU) -
Medan dengan multi sensor secara real-time berbasis Internet of Things (IoT). Sistem ini memanfaatkan
NodeMCU ESP32 sebagai unit pemroses utama yang mengintegrasikan lima sensor
parameter lingkungan: sensor pH, Total Dissolved Solids (TDS), turbidity (kekeruhan), sensor suhu air DS18B20,
dan sensor suhu/kelembapan udara DHT22. Guna menjamin operasional otonom secara
kontinu di lapangan tanpa ketergantungan energi konvensional, sistem
dikonfigurasi menggunakan catu daya mandiri (off-grid)
terintegrasi panel surya 10 WP dan baterai lithium 18650 terproteksi BMS. Data
hasil pengukuran ditransmisikan secara nirkabel ke platform cloud Firebase dan
divisualisasikan melalui antarmuka web AquaGuard menggunakan jaringan Wi-Fi.
Hasil kalibrasi instrumen menunjukkan tingkat ketelitian tinggi dengan batas
toleransi error sensor pH sebesar \pm0,62, sensor
TDS \pm0,72\text{mg/L},sensor kekeruhan \pm0,97\ text {NTU},sensor suhu air \pm0,25^{\circ} \text {C},
dan sensor udara \pm0,36^{\circ}\text{C}. Implementasi
lapangan menyingkap dinamika polusi ekstrem pasca-hujan deras, di mana air
kolam mengalami penurunan pH menjadi 5,5–5,9 (cenderung asam) disertai lonjakan
kekeruhan dramatis mencapai 570–620 NTU akibat sedi- mentasi limpasan drainase
urban Medan. Analisis korelasi parametrik memperlihatkan hubungan negatif
sangat kuat antara pH dan kekeruhan (r = -0,85) serta
hubungan positif kuat antara pH dan TDS (r = 0,67). Sistem ini
terbukti sangat efisien dengan konsumsi energi harian hanya sebesar 5,8 Wh & mampu mempertahankan operasi cadangan tanpa sinar matahari selama 5 hingga 6
hari. Riset ini membuktikan bahwa instrumentasi pintar otonom mampu menjadi
solusi gardu depan dalam memitigasi krisis air perkotaan secara real-time.
Kata
Kunci: Hacking, Urban Water
Crisis, IoT, ESP32, Kualitas Air, Kolam Retensi USU.
1:
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Di era modern ini, dunia tengah dihadapkan pada ancaman global yang
nyata: Urban Water Crisis atau krisis air perkotaan.
Pesatnya pembangunan infrastruktur fisik, perluasan kawasan kedap air, dan
aktivitas domestik perkotaan memicu penurunan kualitas badan air secara
eksponensial. Berdasarkan Undang-Undang RI No. 32 Tahun 2009 dan Peraturan
Pemerintah No. 22 Tahun 2021, pengelolaan lingkungan hidup wajib bertumpu pada
deteksi dini pencemaran lingkungan. Namun, realitanya, sistem drainase
perkotaan sering kali luput dari pemantauan yang ketat, sehingga menjadi jalur
utama masuknya polutan tak terkendali ke ekosistem air.
Kota Medan, sebagai salah satu metropolitan terbesar di Indonesia,
menghadapi tantangan hidrologis yang kompleks. Salah satu titik strategis yang
memegang peran vital dalam manajemen air di kawasan ini adalah Kolam Retensi
Universitas Sumatera Utara (USU). Kolam retensi ini bukan sekadar pemanis
lanskap kampus, melainkan infrastruktur hijau pengendali banjir (flood control) dan penampung limpasan air hujan (stormwater runoff) serta aliran drainase makro dari
area urban sekitarnya, seperti Jalan Dr. Mansyur, Jamin Ginting, dan Pajak
Sore, sebelum dilepaskan menuju Sungai Babura melalui Parit Menggali.
Karakteristik input air yang fluktuatif dan membawa berbagai limbah domestik
urban membuat kolam retensi ini rentan terhadap stagnasi zat polutan,
sedimentasi lumpur yang parah, dan penurunan kualitas air secara mendadak.
Untuk mengatasi tantangan ini, metode pemantauan konvensional berbasis
pengambilan sampel manual (grab sampling) dan
uji laboratorium terbukti tidak lagi memadai. Metode lama tersebut memakan
waktu lama, berbiaya mahal, dan gagal menyajikan data dinamis secara langsung (real-time). Padahal, polusi air urban terjadi dalam
hitungan menit, terutama saat dipicu oleh curah hujan tinggi.
Oleh karena itu, diperlukan sebuah terobosan untuk "meretas"
keterbatasan tersebut (hacking the urban water crisis)
melalui pendekatan fisika instrumentasi berbasis Internet of Things (IoT). Dengan merancang bangun
rangkaian instrumen- tasi elektronik multi-sensor otonom, parameter fisis-kimia
air dapat direkam secara kontinu dan mandiri energi di lapangan tanpa
intervensi manusia. Melalui implementasi sistem cerdas ini di Kolam Retensi
Universitas Sumatera Utara (USU), penelitian ini diharapkan dapat memberikan cetak
biru (blueprint) teknologi monitoring lingkungan yang andal,
murah, dan adaptif untuk menyelamatkan ekosistem air perkotaan secara real-time.
1.2
Rumusan Masalah
1.Bagaimana mengarsiteki dan mengimplemen- tasikan rangkaian
instrumentasi elektronik multi-sensor pintar berbasis NodeMCU ESP32 untuk
membongkar fluktuasi polusi di Kolam Retensi Universitas Sumatera Utara (USU) - Medan
secara otonom ?.
2.Bagaimana menguji tingkat akurasi, sensitivitas, dan batas
deviasi sensor parameter kualitas air terhadap standar kalibrasi fisis instrument
?.
3.Bagaimana mengoptimalkan sistem manajemen daya mandiri (energy harvesting system) berbasis solar panel
fotovoltaik agar instrumen mampu beroperasi nonstop 24 jam di lingkungan luar
ruangan yang ekstrem ?.
1.3
Tujuan Penelitian
1.Menciptakan purwarupa instrumen IoT multi-sensor otonom sebagai
solusi digital dalam menghadapi krisis air urban di Kolam Retensi Universitas
Sumatera Utara - Medan.
2.Memetakan korelasi parametrik derajat keasaman (pH), padatan
terlarut (TDS), kekeruhan (turbidity), dan suhu
secara real-time pasca-fenomena limpasan hujan urban.
3.Mengevaluasi performa efisiensi daya dan daya tahan sistem
energi mandiri tenaga surya untuk menjamin keberlanjutan operasional alat di
lapangan.
2:
TINJAUAN PUSTAKA & LANDASAN TEORI
2.1
Grand Theory (Teori Utama)
· Teori Instrumentasi Elektronik & Sensor
Fisika Sinyal Akurat :
Rangkaian instrumentasi ini bekerja melampaui batas mekanis
konvensional dengan mengonversi besaran fisis lingkungan menjadi sinyal listrik
analog, yang kemudian diproses secara presisi oleh Analog to Digital Converter (ADC) 12-bit pada
mikrokontroler NodeMCU ESP32.
oSistem Potensiometri Elektrokimia (Sensor pH):
Mengukur beda potensial elektrokimia antara elektroda indikator kaca dan
elektroda referensi yang berbanding lurus dengan logaritma aktivitas ion
hidrogen (\text{H}^+). Instrumentasi ini dikondisikan secara khusus
untuk mendeteksi tingkat keasaman ekstrem yang dibawa oleh hujan asam urban.
oPrinsip Hamburan Optik Beer-Lambert (Sensor Kekeruhan):
Mengukur redaman dan hamburan cahaya inframerah oleh partikel
tersuspensi. Ketika limpasan hujan membawa lumpur makro ke Kolam Retensi USU,
sensor ini menangkap densitas hamburan tersebut dan mengonversinya menjadi
satuan nefelometrik (NTU) secara instan.
oTeori Konduktivitas Elektrolit (Sensor TDS):
Memanfaatkan prinsip jembatan hambatan untuk mengukur kemampuan larutan
dalam menghantar- kan arus listrik. Peningkatan ion terlarut dari limbah
domestik urban akan memperbesar nilai konduktivitas yang dibaca dalam satuan
ppm (parts per million).
· Arsitektur Jaringan Siber-Fisik IoT (Internet
of Things):
Sistem ini mengintegrasikan lapisan fisik (sensor array) dan
lapisan aplikasi (cloud database) melalui protokol
nirkabel Wi-Fi secara real-time. Data tidak
sekadar disimpan, melainkan dialirkan secara kontinu tanpa jeda untuk memutus
rantai birokrasi pengujian laboratorium konvensional.
· Hukum Termodinamika & Konversi Energi Foto
voltaik Off-Grid:
Memanfaatkan efek fotovoltaik untuk memanen foton matahari menjadi
energi listrik DC mandiri. Energi ini diregulasi secara ketat oleh sistem
manajemen baterai (Battery Management System / BMS)
untuk menjamin pasokan daya otonom tanpa henti pada sistem instrumen, terlepas
dari dinamika cuaca ekstrem di lapangan.
2.2
Kajian Sebelumnya (Literature Review)
1.Bu’u dkk. (2023):
Merancang monitoring akuarium
berbasis ESP32 menggunakan platform Blynk. Meskipun berhasil membaca parameter
pH dan kekeruhan, sistem ini memiliki kelemahan fatal karena bergantung pada
listrik PLN, skalanya terbatas (dalam ruangan), dan tidak dirancang untuk
menghadapi fluktuasi cuaca ekstrem luar ruangan.
2.Dewantoro & Ulum (2021) :
Mengembangkan
monitoring budidaya ikan menggunakan database Firebase.
Sistem ini memi liki keterbatasan karena belum dilengkapi dengan manajemen
daya mandiri (off-grid), sehingga tidak dapat diaplikasikan secara
otonom di badan air makro perkotaan yang rentan mati listrik.
3.Kristiantya dkk. (2022):
Menerapkan
kendali logika fuzzy pada Arduino Uno untuk mengontrol kualitas air. Riset ini
gagal memenuhi standar global karena mikrokontroler yang digunakan belum
mendukung konektivitas IoT nirkabel bawaan dan tidak menggunakan sistem pasokan
energi terbarukan.
2.3
State of The Art (SOTA)
Penelitian ini melakukan lompatan teknologi secara radikal dari
kajian-kajian sebelumnya. State of The Art (SOTA)
dari instrumen ini terle- tak pada integrasi menyeluruh dari
arsitektur siber-fisik multi-sensor (lima parameter fisis-kimia sekaligus) yang
ditenagai oleh sistem pemanen energi mandiri (energy harvesting system)
berbasis solar panel fotovoltaik & baterai lithium-ion terproteksi BMS
secara off-grid. Lebih dari itu, penelitian ini
memindahkan lokus pengujian dari skala laboratorium /akuarium kecil menuju skala
makro ekologis, yaitu pada Kolam Retensi Universitas
Sumatera Utara - Medan. Langkah ini menjadi sebuah pembuktian
krusial bagaimana instrumentasi elektronik murah mampu bertahan dan meretas
tantangan krisis air urban secara otonom di lapangan.
3:
METODOLOGI DAN PERANCANGAN INSTRUMENTASI
3.1
Spesifikasi Komponen Sensor & Perangkat Keras
Sistem Eco-Sentinel ini dibangun
menggunakan komponen-komponen utama sebagai berikut:
1.NodeMCU ESP32 :
Otak
komputerisasi otonom 32-bit berkemampuan transmisi Wi-Fi ultra-cepat.
2.Sensor pH Meter V1.1 & Sensor TDS Meter V1.0 :
Sensor elektrokimia & konduktivitas presisi tinggi.
3.Sensor Turbidity Optik :
Modul
sensor inframerah pengukur partikel tersuspensi.
4.Sensor DS18B20 (Waterproof) & DHT22 :
Sensor
digital pembaca suhu air & kelembapan udara lingkungan.
5.Pembangkit Energi Mandiri :
Panel
Surya 10 WP, Modul Charger TP 4056 dengan BMS 1 S, Baterai Lithium 18650
(Kapasitas total 3,7 V 9 Ah), & Konverter Step-Up DC-to-DC 5V.
6.Sistem Alarm Lokal :
LCD OLED
1,3 inci (komunikasi I2 C via pin GPI O21 & GPI O22) & Buzzer piezoelektrik.
3.2
Alur Kerja Sistem (Flowchart Operasional)
Sistem bekerja
dalam siklus otonom yang ketat :
1.Inisialisasi Sistem :
ESP32
aktif, menginisiali-sasi jalur I2C LCD OLED, menetapkan koneksi jaringan Wi-Fi,
dan membuka gerbang komunikasi data ke cloud Firebase.
2.Akuisisi Data :
Sensor membaca
5 parameter secara simultan. Sinyal analog diubah menjadi data digital oleh
ADC, lalu diproses menggunakan algoritma regresi linear kalibrasi di da- lam firmware.
3.Pengambilan Keputusan Lokal (Edge Computing) :
Jika
data mendeteksi parameter di luar ambang batas baku mutu (misal pH < 6 atau
Kekeruhan > 100 NTU), ESP32 secara instan me- micu pin digital untuk
mengaktifkan buzzer alarm.
4.Transmisi Nirkabel & Visualisasi :
Data
dikirim ke cloud Firebase dan langsung divisualisasikan pada dasbor web
AquaGuard.
5.Mode Hemat Energi (Deep Sleep) :
Setelah
data terkirim (durasi 30 detik), ESP32 mematikan modul internalnya dan memasuki
mode deep sleep selama 3 menit untuk memotong konsumsi
arus secara drastis sebelum mengulangi siklus dari awal.
4:
HASIL & PEMBAHASAN
4.1
Pengujian Akurasi dan Kalibrasi Sensor Instrumentasi
Untuk memastikan bahwa instrumen ini layak menjadi gardu depan dalam
meretas krisis air, pengujian validasi dilakukan secara ketat dengan
membandingkan pembacaan alat terhadap instru- men standar laboratorium. Hasil
pengujian menunjukkan deviasi yang sangat rendah:
|
Parameter Sensor |
Batas Toleransi
/ Deviasi
Pengukuran |
Status Validasi |
|
Sensor pH Meter |
\pm0,62 pH |
Lolos Uji Presisi |
|
Sensor TDS Meter |
\pm0,72\text{
mg/L} |
Lolos Uji Presisi |
|
Sensor Turbidity |
\pm0,97\text{
NTU} |
Lolos Uji Presisi |
|
Sensor DS18B20
(Suhu Air) |
\pm0,25^{\circ}\text{C} |
Lolos Uji Presisi |
|
Sensor DHT22
(Suhu Udara) |
\pm0,36^{\circ}\text{C} |
Lolos Uji Presisi |
Rendahnya nilai error ini membuktikan bahwa rangkaian pengkondisi sinyal
dan algoritma kalibrasi yang ditanamkan pada NodeMCU ESP32 berhasil
menghasilkan pembacaan fisis yang valid dan setara dengan alat ukur komersial
yang mahal.
4.2
Analisis Pola Data Polusi dan Dampak Krisis Air Pasca-Hujan
Implementasi alat di lapangan secara sukses merekam bagaimana fenomena
cuaca buruk di Kota Medan merusak ekosistem air Kolam Retensi UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA secara instan. Data komparatif sebelum dan setelah hujan deras
menyajikan angka yang sangat dramatis :
|
Parameter
Kualitas Air |
Kondisi Normal (Sebelum Hujan) |
Kondisi Krisis (Pasca-Hujan
Deras) |
|
Derajat Keasaman
(pH) |
6,8 – 7,2
(Netral) |
5,5 – 5,9 (Asam) |
|
Kekeruhan
(Turbidity) |
15 – 35 NTU
(Jernih) |
570 – 620 NTU
(Ekstrem) |
|
Total Padatan
Terlarut (TDS) |
120 – 180 mg/L |
337 – 362 mg/L
(Tinggi) |
Analisis
Fisika Lingkungan:
Lonjakan kekeruhan hingga 570 – 620 NTU menjadi
bukti nyata dari hantaman polusi limpasan urban (stormwater run off).
Air hujan membawa massa tanah, lumpur, dan polutan makro dari jalanan Dr.
Mansyur dan drainase sekitarnya masuk langsung ke kolam retensi. Polutan
terlarut juga meningkat tajam, terbukti dari nilai TDS yang melonjak
hingga 337–362 mg/L. Karakteristik air hujan kota yang polutif
memicu penurunan drastis pH air menjadi 5,5 –5,9, menciptakan
kondisi lingkungan yang asidifik dan berbahaya bagi organisme air.
Analisis statistik korelasi parametrik menyingkap hubungan yang sangat
erat antar variabel kualitas air tersebut:
1.Korelasi pH dan Kekeruhan (r = -0,85) : Menunjukkan
korelasi negatif yang luar biasa kuat. Setiap kali intensitas kekeruhan
meningkat akibat endapan lumpur hujan, pH air dipastikan anjlok ke arah asam.
2.Korelasi pH dan TDS (r = 0,67):
Hubungan
positif yang kuat mengindikasikan bahwa peningkatan senyawa asam mempercepat
pelarutan ion-ion mineral tanah di dalam kolam.
3.Korelasi TDS dan Kekeruhan (r = -0,66) :
Hubungan
negatif kuat ini menggambarkan dinamika dispersi antara partikel terlarut mikro
dan partikel tersuspensi makro saat air kolam mengalami turbulensi aliran
drainase urban.
4.3
Evaluasi Efisiensi Energi Mandiri Berbasis Solar Sel
Sistem ini berhasil membuktikan keandalannya sebagai instrumen otonom
sejati melalui mana- jemen daya yang sangat efisien:
·Konsumsi Daya Operasional: Pada mode aktif
(transmisi Wi-Fi dan pembacaan sensor selama 30 detik), sistem menyerap daya
sebesar 1,2 Watt. Saat memasuki mode deep sleep (3 min), konsumsi daya ditekan habis
hingga tersisa 0,05 Watt.
·Total Energi Harian: Akibat siklus hemat energi (duty cycle) yang ketat, instrumen hanya membutuhkan
energi sebesar 5,8 Wh dalam 24 jam.
·Ketahanan Otonom: Panel surya 10 WP hanya membutuhkan
waktu 3 hingga 4 jam penyinaran matahari untuk mengisi
penuh baterai lithium-ion 18650 yang memiliki kapasitas energi total 33,3 Wh. Dengan demikian, ketika baterai terisi penuh,
instrumen Eco-Sentinel ini memiliki
ketahanan untuk tetap hidup secara otonom selama 5 hingga 6 hari berturut-turut di lapangan dalam kondisi cuaca
mendung total tanpa sinar matahari. Sistem konverter step-up bekerja optimal dengan efisiensi daya
mencapai 85 %.
5:
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
Kesimpulan
1.Instrumen IoT pintar multi-sensor "Eco-Sentinel" berhasil
dirancang, dibangun, dan diimplementasikan secara nyata untuk memetakan
krisis kualitas air secara real-time di
Kolam Retensi Universitas Sumatera Utara - Medan melalui platform terinteg- rasi
Firebase dan web AquaGuard.
2. Rangkaian instrumen terbukti memiliki presisi tinggi dengan
batas error yang sangat rendah. Sistem berhasil mendeteksi polusi ekstrem
pasca-hujan deras (pH jatuh ke 5,5–5,9 dan kekeruhan melonjak drastis hingga
570–620 NTU) serta membuktikan korelasi negatif kuat antara pH dan kekeruhan (r = -0,85).
3. Sistem manajemen daya mandiri fotovoltaik 10 WP bekerja sangat
efisien dengan kebutuhan harian hanya 5,8 Wh dan memiliki cadangan energi
otonom hingga 5–6 hari tanpa sinar matahari.
5.2
Saran
1.Penerapan Kecerdasan Buatan (AI): Mengintegrasikan algoritma
pembelajaran mesin (Machine Learning) pada sistem cloud
untuk memprediksi datangnya gelombang polusi air perkotaan beberapa jam sebelum
hujan turun berdasarkan tren historis data sensor.
2.Penyimpanan Cadangan Lokal (Local Storage Logging):
Menambahkan
modul kartu Micro-SD pada papan sirkuit elektronik sebagai media penyimpanan
data lokal cadangan untuk mencegah hilangnya data esensial saat jaringan Wi-Fi
di area kolam retensi mengalami gangguan teknis.
.jpeg)