"NERAKA DUNIA" DI RUANG KELAS ? INOVASI MURAH RP. 130 RIBU INI SIAP SELAMATKAN FOKUS BELAJAR MAHASISWA FISIKA USU !
Oleh :
- Ahmad Zidane As-Salafi Siregar (Mahasiswa Fisika USU, NIM: 240801046, Tugas Mandiri ( TUMAN ) Mata Kuliah Elektronika Dasar II FIS 2204, 2 SKS, Kelas IV B ; Thema “ Identifikasi Masalah & Solusi Elektronika Sederhana Berdampak”.
- Kiyai Kh.Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si, M.Si, (Dosen Pengampu Elektronika Dasar 2 ; T.A. 2026 / 2027, Prodi Fisika S-1 - FMIPA - USU)
Selayang Pandang :
Pernahkah Anda merasa otak mendadak blank saat dosen sedang menjelaskan rumus rumit, padahal AC sudah menyala ?. Bisa jadi itu bukan karena materinya yang terlalu sulit, melainkan suhu ruangan yang sudah melewati batas toleransi manusia.
Di tengah iklim tropis Medan yang "menyengat" (28 - 35 oC), kenyamanan belajar di ruang kelas FMIPA USU seringkali terabaikan karena pemantauan suhu yang masih bersifat manual dan tidak efektif. Namun, seorang mahasiswa bernama Ahmad Zidane As-Salafi Siregar muncul dengan solusi jenius berbasis elektronika sederhana yang siap mengubah segalanya.
Kata Kunci: Suhu Ruangan, DHT11, LM358, Mikrokontroler, Kenyamanan Termal, FMIPA USU.
Latar Belakang :
Kondisi iklim tropis di Kota Medan yang mencapai suhu 28 oC hingga 35 oC dengan kelembapan relatif (RH) 70 – 85 % seringkali mengganggu kenyamanan belajar di ruang kelas FMIPA Universitas Sumatera Utara (USU). Dengan kepadatan 30 - 40 orang mahasiswa per kelas, pemantauan suhu secara manual dianggap tidak lagi efektif untuk memberikan respons cepat terhadap perubahan suhu ruangan.
Teknologi "Anti-Gerah" dengan Budget Mahasiswa :
Siapa bilang teknologi canggih harus mahal ?, Zidane merancang sistem pemantauan suhu otomatis dengan total biaya komponen hanya Rp 130.000 ! Alat ini bukan sekadar pajangan, tapi sebuah sistem peringatan dini yang sangat krusial.
Berikut adalah "jeroan" dari alat pintar ini:
- Sensor DHT11: Sang "mata" utama yang mendeteksi suhu dan kelembapan dengan akurasi 2 oC.
- Penguat LM358: Berperan sebagai pengkondisi sinyal agar data yang diterima stabil.
- Otak Sistem: Menggunakan MCU (Arduino UNO) untuk memproses semua informasi.
- Output Interaktif: Dilengkapi LCD 16 x 2, LED tiga warna, dan buzzer sebagai alarm.
Sistem Lampu Lalu Lintas : Dari "Aman" Hingga "Darurat"
Alat ini bekerja layaknya polisi lalu lintas yang mengatur kenyamanan suhu ruangan :
Kondisi | Suhu Aktual | Indikator | Status |
Normal | 28 - 30 oC | LED Hijau Aktif | Aman Terkendali |
Warning | 31 oC | LED Kuning Aktif | Mulai Gerah |
Lembab Tinggi | 32 oC | LED Merah + Buzzer | Tidak Nyaman |
Alarm Maksimal | 35 oC | Buzzer Kontinu | "Evakuasi" atau Nyalakan AC Maksimal ! |
Mengapa Civitas Akademika Harus Peduli ?
Berdasarkan hasil pengujian, sistem ini terbukti mampu memberikan pembacaan yang mendekati nilai sebenarnya dengan rata-rata error hanya +/- 0,72 oC. Menariknya, kajian ini juga mengungkap bahwa kelembapan udara yang tinggi (mencapai 85 %) sangat mempengaruhi akurasi sensor dan kenyamanan mahasiswa di dalam ruangan.
Inovasi ini adalah bukti nyata bahwa dengan elektronika sederhana, kita bisa menciptakan solusi efektif untuk masalah nyata di kampus. Tidak perlu menunggu sistem manajemen gedung yang mahal jika alat seharga makan siang seminggu bisa memberikan peringatan dini agar kita tidak "terpanggang" saat kuliah.
Metodologi Kajian:
Kajian ini merancang sistem otomasi pemantauan suhu berbasis elektronika sederhana menggunakan sensor DHT11 sebagai input utama.
Rangkaian ini dilengkapi dengan penguat operasional LM358 yang berfungsi sebagai unit pengkondisi sinyal (signal conditioning).
Data diproses melalui mikrokontroler (Arduino UNO) dan ditampilkan pada LCD 16 x 2, dengan sistem peringatan dini berupa LED indikator tiga warna serta buzzer alarm.
Hasil Kajian:
Pengujian dilakukan dengan membandingkan pembacaan sensor DHT11 terhadap alat ukur referensi.
Hasil menunjukkan rata-rata error pembacaan suhu sebesar + 0,72 oC dengan akurasi alat pada rentang +/- 2 oC. Sistem indikator bekerja sesuai parameter:
LED Hijau aktif pada kondisi normal (< 28 – 30 oC), LED Kuning pada kondisi Warning (31 0C), serta LED Merah dan buzzer aktif saat suhu mencapai 32 oC atau lebih.
Analisis data menunjukkan bahwa peningkatan kelembapan udara secara signifikan dapat meningkatkan margin error pembacaan suhu pada sensor.
Kesimpulan:
Sistem pemantauan suhu berbasis elektronika sederhana ini
bukan sekadar tugas kuliah, melainkan solusi nyata untuk menggantikan sistem manual yang usang.
Dengan integrasi yang tepat, alat ini bahkan bisa dikembangkan untuk mengendalikan AC secara otomatis atau mengirimkan notifikasi peringatan suhu tinggi ke pihak pengelola gedung.
In sha Alloooh nantinya akan terbukti efektif dan reliabel dalam memberikan informasi suhu secara real-time.
Dengan biaya implementasi yang ekonomis sebesar Rp 130.000, alat ini layak dipertimbangkan sebagai solusi peningkatan kenyamanan termal di lingkungan akademis.
Informasi Tambahan (Technical Breakdown):
Untuk keperluan implementasi & eksekusi nyata kajian ini, berikut adalah rincian spesifikasi komponen yang digunakan dalam sistem ini:
Mari kita dukung inovasi mahasiswa seperti ini agar lingkungan kampus kita tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga nyaman secara fasilitas yang berdampak kepada user (mahasiswa fisika fmipa USU khususnya ). Semoga nian terkabul & berkah !.
Komponen | Spesifikasi / Tipe | Fungsi | Harga Estimasi (Rp.) |
Sensor | DHT11 | Input Suhu & Kelembapan | 25.000,- |
Op-Amp | IC LM358 | Pengkondisi Sinyal | 10.000,- |
Display | LCD 16 x 2 | Visualisasi Data | 50.000,- |
Indikator | LED & Buzzer | Alarm Peringatan | 20.000,- |
Main Board | Arduino UNO | Unit Pemproses (MCU) | - |
