Menyingkap Hakikat Diri: Refleksi Filosofis "Diriku yang Kukenal" Sutan Bagindo Mukhtar






Oleh: 


Kiyai Khalifah Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si., M.Si. Kepala Laboratorium Fisika Nuklir, Universitas Sumatera Utara (USU)- Medan


Pendahuluan:

 

Urgensi Kaji Diri dalam Perjalanan Eksistensi

Dalam hiruk-pikuk kehidupan modern yang serba cepat dan kompleks, manusia seringkali terasing dari dirinya sendiri. Orientasi eksternal yang dominan, ditopang oleh kemajuan teknologi dan informasi, kerap mengaburkan pemahaman akan hakikat diri yang sejati. Padahal, sepanjang sejarah pemikiran, baik dalam tradisi filosofis maupun spiritual, "kaji diri" atau introspeksi mendalam selalu menjadi fondasi utama bagi pencapaian kebijaksanaan, kebahagiaan, dan pemahaman transenden. Adagium kuno "Kenalilah dirimu sendiri" yang terpahat di Kuil Apollo di Delphi, hingga ajaran sufistik "Barangsiapa mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya (Alloooh) " (Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa Rabbahu), secara konsisten menegaskan bahwa perjalanan keluar harus diawali dengan perjalanan ke dalam.

 

Makalah ilmiah populer ini bertujuan untuk mengeksplorasi konsep "kaji diri" dengan merujuk pada khazanah pemikiran yang terkandung dalam buku "Diriku yang Kukenal" karya Sutan Bagindo Mukhtar (Mukhtar, tahun publikasi). Buku ini, yang kaya akan wawasan spiritual dan filosofis, menawarkan panduan komprehensif tentang bagaimana seseorang dapat menyelami kedalaman dirinya untuk menemukan esensi diri yang murni dan terhubung dengan Realitas Ilaaahi.

 

"Diriku yang Kukenal":

 

Menyingkap Lapisan-lapisan Diri

Sutan Bagindo Mukhtar, melalui karyanya "Diriku yang Kukenal" (Mukhtar, tahun publikasi), mengajak pembaca untuk melakukan perjalanan introspektif yang radikal. Konsep "Diriku yang Kukenal" bukan sekadar pengenalan terhadap identitas lahiriah—seperti nama, profesi, status sosial, atau bahkan atribut fisik—yang seringkali menjadi topeng atau ilusi. Sebaliknya, ia adalah sebuah seruan untuk menyingkap lapisan-lapisan diri yang paling dalam, membedakan antara "diri" yang bersifat sementara dan superfisial (ego atau nafs ammarah) dengan "diri" yang bersifat abadi dan esensial (ruh atau nafs muthmainnah).

 


Dalam perspektif Bagindo Mukhtar, diri sejati adalah "permata" yang tersembunyi, yang pada dasarnya suci dan terhubung dengan sumber Ilaaahi. Namun, permata ini seringkali tertutupi oleh "debu" dan "noda" yang berasal dari pengalaman duniawi, hawa nafsu, prasangka, kelalaian (ghaflah), serta berbagai kondisi psikologis dan sosial. Oleh karena itu, "Diriku yang Kukenal" adalah proses pemurnian, sebuah upaya untuk mengupas lapisan-lapisan yang menghalangi cahaya permata batin untuk terpancar. Ini adalah pengenalan terhadap nafs atau jiwa yang bersemayam dalam Darun Nafis (tubuh sebagai rumah jiwa), dan pemahaman bahwa nafs ini memiliki potensi untuk mencapai kesempurnaan.

 

Metodologi Kaji Diri ala Sutan Bagindo Mukhtar ;

 

Meskipun buku "Diriku yang Kukenal" mungkin tidak menyajikan metodologi kaji diri dalam bentuk langkah-langkah yang kaku, esensinya dapat disarikan ke dalam beberapa prinsip praktik yang saling terkait:

Observasi Diri yang Jujur (Muhasabah): Bagindo Mukhtar menekankan pentingnya pengamatan diri yang tanpa pretensi. Ini melibatkan muhasabah atau introspeksi mendalam terhadap pikiran, emosi, motivasi, ucapan, dan tindakan sehari-hari. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi pola-pola perilaku, kelemahan, dan kecenderungan negatif yang menjadi "penghalang" bagi diri sejati. Proses ini menuntut kejujuran absolut terhadap diri sendiri, tanpa pembenaran atau penolakan.

Pembedaan Diri Sejati dan Diri Palsu: Melalui observasi, seseorang belajar membedakan antara suara ego yang cenderung pada keinginan rendah dan bisikan ruh yang mengarah pada kebaikan dan kebenaran. "Diriku yang Kukenal" adalah proses untuk melepaskan identifikasi diri dengan ego yang terbatas dan fana, dan mulai mengidentifikasi diri dengan ruh yang lebih luas dan abadi.

Penyucian Jiwa (Tazkiyatun Nafs): Setelah mengenali "noda-noda" pada diri, langkah selanjutnya adalah upaya aktif untuk membersihkan jiwa (tazkiyatun nafs). Ini mencakup praktik-praktik spiritual seperti zikir (mengingat Alloooh), tafakur (kontemplasi), menjauhi larangan agama, dan mengamalkan nilai-nilai kebajikan. Proses ini secara perlahan mengikis "debu" yang menutupi permata batin, memungkinkan bashirah (mata batin) untuk berfungsi optimal.

 

Refleksi atas Perjanjian Primordial: Kaji diri juga melibatkan perenungan tentang mitsaq (perjanjian primordial) yang diabadikan dalam Al-Qur'an Surat Al-A'raf ayat 172. Di sana, seluruh ruh manusia telah bersaksi dan mengakui ketuhanan (Alloooh) ("Alastu birobbikum ?; Qoolu bala syahidna"). Bagindo Mukhtar mengajak untuk mengingat kembali janji ini, menyadari bahwa pengenalan kepada Alloooh bukanlah sesuatu yang baru dipelajari, melainkan pengingatan kembali terhadap pengetahuan yang sudah terukir dalam esensi ruh.

 

Kaji Diri sebagai Jembatan Menuju Makrifatullah ;

 

Konsep "Diriku yang Kukenal" dari Sutan Bagindo Mukhtar secara langsung mengarah pada realisasi adagium "Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa Rabbahu." Ketika seseorang berhasil menyingkap lapisan-lapisan diri dan mengenal ruh-nya yang sejati—yaitu ruh yang telah membuat perjanjian dengan Alloooh di alam azali—maka secara inheren ia akan mengenal Tuhannya (Alloooh). Pengetahuan ini bukan sekadar pengetahuan intelektual, melainkan ma'rifat, yaitu pengetahuan langsung dan eksperiensial.

 

Melalui kaji diri yang mendalam, fungsi-fungsi fisik dan indrawi manusia mengalami transformasi. Mata tidak lagi hanya melihat bentuk dan warna, tetapi juga ayat-ayat (tanda-tanda) kebesaran Ilaaahi. Telinga tidak lagi hanya mendengar suara bising, tetapi juga bisikan hikmah dan kebenaran. Detak jantung yang diatur oleh Sinoatrial Node (SAN), yang secara fisiologis menjaga kehidupan, dapat dirasakan sebagai zikir alamiah, sebuah irama yang terus-menerus memuji Sang Pencipta. Bashirah, yang diasah melalui proses "Diriku yang Kukenal," menjadi alat untuk melihat Wahdatul Wujud (Kesatuan Wujud) di balik kemajemukan alam semesta. Setiap aspek eksistensi, dari partikel fundamental hingga kesadaran tertinggi, dipahami sebagai manifestasi dari Wujud Ilaaahi yang Esa.

 

Relevansi Kontemporer dan Implikasi Menuju Insan Kamil ;


Di tengah krisis identitas dan kekosongan spiritual yang melanda masyarakat modern, "Diriku yang Kukenal" karya Sutan Bagindo Mukhtar menawarkan solusi yang relevan dan mendalam. Kaji diri membantu individu untuk:

 

Menemukan Makna Hidup: Dengan mengenal diri sejati, seseorang menemukan tujuan eksistensinya yang lebih tinggi, melampaui pencapaian materi semata.

 

Mencapai Kedamaian Batin: Proses pemurnian diri membebaskan individu dari belenggu hawa nafsu dan kecemasan, membawa ketenangan dan kebahagiaan hakiki.

 

Membangun Hubungan Otentik: Dengan memahami diri sendiri, seseorang dapat membangun hubungan yang lebih jujur dan bermakna dengan orang lain dan alam semesta.

 

Mewujudkan Insan Kamil: 

 

Kaji diri adalah fondasi bagi pembentukan Insan Kamil (Manusia Sempurna), yaitu individu yang telah mencapai keselarasan sempurna antara dimensi lahiriah dan batiniah. Insan Kamil adalah manusia yang hidup dalam harmoni total dengan Wahdatul Wujud, menjadi cermin sempurna bagi Sifat-sifat Tuhan (Alloooh) di alam semesta. Ia adalah manusia yang senantiasa sadar bahwa ALLOOH IS WATCHING (QS. Al-Hadid: 4), sebuah kesadaran akan kehadiran Ilaaahi yang meliputi segala sesuatu, yang memandu setiap langkah dan niat.

 

Kesimpulan:

 

Perjalanan Abadi Menemukan Permata Diri

Buku "Diriku yang Kukenal" karya Sutan Bagindo Mukhtar adalah sebuah permata kebijaksanaan yang mengajak kita untuk kembali kepada diri. Ia mengingatkan kita bahwa di balik hiruk-pikuk kehidupan dan lapisan-lapisan identitas yang kita kenakan, terdapat sebuah permata yang indah dan murni, menunggu untuk ditemukan dan dipoles. Proses kaji diri adalah sebuah perjalanan seumur hidup, sebuah upaya tiada henti untuk membersihkan hati, menyucikan jiwa, dan menyadari kehadiran Ilaaahi yang meliputi segala sesuatu.

 

Dengan merujuk pada "Diriku yang Kukenal," kita dapat memahami bahwa kaji diri bukan sekadar praktik spiritual, melainkan sebuah kebutuhan fundamental untuk mencapai kehidupan yang bermakna, penuh kedamaian, dan selaras dengan hakikat eksistensi.

 

Pada akhirnya, melalui kaji diri, kita tidak hanya menemukan diri kita, tetapi juga menemukan Tuhan (Alloooh) yang senantiasa meliputi dan menopang segala sesuatu, dalam sebuah simfoni kehidupan yang hakiki menuju Insan Kamil.

 





Breaking News

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel akhir

Iklan Bawah Artikel